Jumat, 10 April 2009

Pengertian Mindfulness sebagai Kualitas Kesadaran Diri

Psikologi adalah ilmu mengenai kehidupan mental yang berarti kesadaran akan kehidupan mentalnya (James dalam Solso, 1998). Mindfulness adalah kualitas kesadaran diri (consciousness), yang mencakup keadaan sadar terjaga (awareness) dan perhatian (attention) dan harus dibedakan dari proses mental seperti kognisi (perencanaan-pengawasan), motivasi, dan keadaan emosi (Brown & Ryan, 2003). Mindfulness harus dibedakan dari beberapa teori self-awareness yang mendapat perhatian selama hampir 30 tahun belakang, seperti Duval dan Wicklunds (1972) yaitu teori objektif self-awareness, Buss’s (1980) yaitu teori self-consciousness, dan Carver dan Scheier’s (1981) yaitu teori self-awareness pengetahuan mengenai diri (Bishop dkk, 2004; Brown & Ryan, 2003). Istilah consciousness digunakan untuk pengertian kesadaran diri secara lebih luas dan didukung munculnya Journal of Consciousness Studies di awal tahun 90an. Istilah awareness saat ini digunakan untuk pengertian keadaan sadar terjaga terkait keadaan internal dan eksternal individu .

Konsep kesadaran diri dalam psikologi humanistik oleh May (Koeswara, 1988) menunjuk sebagai kapasitas yang membuat individu mampu menempatkan, mengamati dirinya, maupun membedakan dirinya dari orang lain; serta kapasitas yang memungkinkan individu mampu menempatkan diri dalam kesadaran masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang tanpa kehilangan dirinya. Ketidak mampuan individu untuk mengalami kontinyuitas perasaan secara langsung erat kaitannya dengan hilangnya kesadaran diri atas tubuh sebagai suatu kesatuan diri (May dalam Koeswara, 1988).

Atkinson dkk (1999) mengemukakan dua macam kesadaran, yaitu : kesadaran aktif, menitikberatkan pada proses mental dalam membuat rencana, mengambil inisiatif, dan memonitor diri sehingga akan memunculkan regulasi diri; dan kesadaran pasif, seperti kesadaran sederhana dari pikiran, emosi, penginderaan, dan kesan. Buss (1995) dalam teori self-consciousness mengemukakan pula ada dua jenis kesadaran diri, yaitu : private self-consciousness, merupakan kesadaran akan diri sendiri yang tidak bisa diamati secara langsung oleh orang lain, seperti bagaimana rasanya otot mengencang, perasan marah, cinta, ataupun perasaan spiritual; dan public self-consciousness, kesadaran akan diri yang diamati pula oleh orang lain, seperti penampilan diri, bagaimana orang lain berpikir tentang diri, penghargaan terhadap orang lain, ataupun bagaimana individu berkomunikasi dengan orang lain.

Solso (1998) mengemukakan bahwa kesadaran diri dari proses fisik mempunyai hubungan timbal balik dengan kehidupan mental yang terkait dengan tujuan hidup, emosi, dan proses kognitif yang mengikutinya. Santrock (2003b) mengemukakan kesadaran diri adalah keadaan sadar terjaga atau pengetahuan mengenai peristiwa yang terjadi di luar dan di dalam dirinya, termasuk sadar akan pribadinya dan pemikiran mengenai pengalamannya. Individu yang memiliki kesadaran diri adalah sadar akan persepsinya, perasaannya, angan-angannya, ataupun sadar akan dunia di luar dirinya (Hist; Posner dalam Matlin, 1998). Solso (1998) mengungkapkan kesadaran diri sebagai keadaan sadar terjaga akan lingkungan di sekitarnya dan proses kognitif yang terjadi dalam dirinya, seperti ingatan, pemikiran, emosi, dan reaksi fisiologisnya. Kesadaran diri adalah kesadaran pikiran yang berasal dari aliran persepsi terhadap sensasi, angan-angan, pemikiran, dan emosi yang terjadi secara terus-menerus (James dalam Santrock, 2003b).

Damasio (2000) menyatakan bahwa kesadaran diri didasari oleh keadaan sadar terjaga dan disertai oleh perhatian yang terpusat pada keadaan internal dalam dirinya (mind-body) dan lingkungan di luar sehingga mengetahui keberadaan dirinya di sini-saat ini. Kualitas kesadaran diri merupakan keadaan lebih jelas dan jernihnya pengalaman sadar individu mengenai keadaan di sini dan saat ini (here & now) dengan secara efektif menyadari ingatan masa lalu dan terlebih lagi memungkinkan mengantisipasi masa depan. Kualitas kesadaran diri oleh para praktisi meditasi timur dan para ahli neurofenomenologi menyebutnya sebagai mindfulness. Mindfulness adalah kualitas kesadaran diri diartikan sebagai meningkatnya perhatian dan keadaan sadar terjaga atas realitas pengalaman keberadaannya yang terjadi di sini-saat ini. Neurofenomenologi merupakan metodologi dengan pendekatan orang pertama dalam studi kesadaran diri yang menekankan pentingnya pengalaman orang pertama atas keadaan di sini-saat ini (Varela & Shear, 1999; Thompson & Lutz, 2003; Thompson dkk, 2004).

Kabat dan Zinn (Bishop, 2002; 2004) menjelaskan bahwa mindfulness merupakan proses yang mengantarkan kualitas perhatian kepada pengalaman disini-saat ini tanpa perlu mengelaborasi, tanpa penilaian; dan penerimaan akan pikiran, perasaan, ataupun sensasi yang muncul dari pusat keadaan sadar terjaga saat ini. Seperti pengalaman ketika berjalan di pantai, merasakan sensasi ketika kaki mendesak pasir, ketika melihat orang memakai bikini disadari sebagai proses pengelihatan yaitu mata menangkap objek manusia mengenakan bikini. Semua yang dirasakan, dilihat, didengar, reaksi emosi dan pemikiran yang menyertai; diperhatikan sebagai peristiwa mental yang muncul dalam arus kesadaran. Keadaan mindfulness diartikan bahwa pemikiran dan perasaan merupakan peristiwa mental yang muncul di pikiran tanpa perlu mengidentifikasikannya secara berlebihan, dan bereaksi secara otomatis dengan kebiasaan perilaku yang cenderung terdorong secara emosional. Mindfulness merupakan keadaan observasi diri yang memberi jarak antara persepsi dan respon, sehingga memungkinkan pikiran untuk merespon situasi lebih efektif pada realitas yang sesungguhnya.

Bishop dkk (2004) menjelaskan bahwa mindfulness merupakan proses yang membawa peningkatan perhatian kepada kualitas keadaan sadar terjaga yang non elaboratif atas pengalaman di sini-saat ini, sebagai pengalaman terbuka, penuh perhatian, dan penerimaan atasnya. Keadaan ini membawa perasaan penuh perhatian akan realitas yang terjadi, sebagai perasaan hidup atas peristiwa pengalaman yang terjadi di sini-saat ini. Misalnya pengalaman makan bersama teman di kantin, merasakan makanan yang masuk dimulut dan dikunyah; muncul pemikiran rasa enak-nasi pulen, kombinasi rasa gurih dan asin sebagai proses yang terjadi ketika makan pada saat ini; melihat teman yang sedang makan di sebelah; merasakan perasaan hidup ketika tangan memasukan makanan ke mulut dan keberadaan diri dengan dimensi jarak teman di sebelah, bangku yang diduduki, ruangan yang ditempati, dan waktu ketika memanipulasi objek di sekitar. Semua pengalaman keberadaan di sini-saat ini, dialami sebagaimana adanya yang merupakan peristiwa mental yang muncul dalam arus kesadaran.

Brown dan Ryan (2003, 2004) menjelaskan bahwa mindfulness adalah hasil meningkatnya keadaan sadar terjaga dan perhatian sehingga menghasilkan kesadaran penuh akan pengalaman keberadaannya di sini-saat ini secara lebih terbuka. Keadaan sadar terjaga adalah pengalaman subjektif dari fenomena internal dan eksternal yang merupakan apersepsi dan persepsi murni dari semua realitas peristiwa yang terjadi setiap saat. Perhatian merupakan pemusatan keadaan sadar terjaga untuk memperjelas aspek tertentu dari realitas. Pengalaman atas rasa kehidupan dan keberadaannya dialami sebagaimana adanya, sebagai realitas pengalaman di sini-saat ini.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa mindfulness adalah proses hasil meningkatnya keadaan sadar terjaga dan perhatian yang terpusat pada keadaan internal dalam dirinya (mind-body) dan lingkungan di luar dirinya atas pengalaman keberadaannya di sini-saat ini; tanpa perlu mengelaborasi, tanpa penilaian, sebagai pengalaman terbuka dan penerimaan atasnya.

1 komentar:

  1. izin copas sebagian
    tentang beberapa teori-teori mindfullness

    buat tugas kuliah (semi-ilmiah, ga terlalu kaku kok dosennya)

    thanks

    BalasHapus