Kamis, 30 April 2009

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Depresi

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Depresi

Depresi dapat dijelaskan oleh berbagai pendekatan, yang dapat digunakan untuk menjelaskan kemunculannya.

a. Dimensi Biologis

Pendekatan biologis menemukan bahwa faktor genetis, sistem endokrin, dan neurotransmitter berperan dalam kemunculan depresi (Halgin & Whitbourne, 1997). Kemunculan depresi dalam prespektif biologi dapat dipahami bahwa kehidupan yang penuh stres mengaktifkan hormon stres, berefek luas pada sistem neurotransmitter khususnya serotonin, norepinephirne, dan circadian rhythms function/CRF. Pengaktifan hormon stres dalam jangka waktu lama akan mempengaruhi gen, menghasilkan perubahan jangka panjang pada struktur dan kimia di otak (Durand & Barlow, 2003).

b. Dimensi Psikologis

1). Pendekatan Psikodinamika

Pendekatan ini menekankan penyebab depresi sebagai rasa kehilangan dari suatu objek atau status (Dacey & Kenny, 1997). Proses hubungan antara orangtua dan anaknya merupakan sumber kehilangan, seperti perceraian orangtua, kurangnya kasih sayang orangtua, kurangnya penghargaan tanpa syarat kepada anak, perpisahan orangtua dengan anak, dan kehilangan orangtua dapat menyebabkan depresi.

2). Pendekatan Behavioral

Pendekatan ini memandang bahwa kurangnya reinforcement positif, seperti ketertarikan dan perhatian orangtua terhadap anaknya, dan dampak perubahan hidup mempengaruhi timbulnya depresi. Faktor yang penting lain dalam memahami depresi salah satunya adalah perasaan tidak berdaya (learned helplessness), muncul ketika dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan, seperti stres atau rasa sakit yang berkepanjangan, dan individu merasa tidak memiliki kendali atasnya (Santrock, 2003b). Pengalaman perasaan tidak berharga seperti ini mengarahkan individu pada perasaan putus asa dan keyakinan bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya. Depresi yang dialami remaja putri muncul dikarenakan meningkatnya perasaan tidak berdaya (learned helplessness) yang disebabkan karena meningkatnya penekanan terhadap diri sendiri, kemandirian, dan individualime serta menurunnya hubungan dengan orang lain, keluarga, dan agama (Seligman dalam Santrock, 2003a). Perasaan tidak berharga terjadi ketika remaja putri dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan atau rasa sakit yang berlangsung lama, sementara remaja putri merasa tidak memiliki kendali untuk mengubahnya, sehingga memupuk perasaan putus asa dan keyakinan bahwa tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Remaja putri yang mengalami depresi akan bersikap apatis karena merasa tidak menerima penghargaan dari orang lain (Santrock, 2003a).

3). Pendekatan Humanistik-Eksistensial

Teori ini memfokuskan atas kehilangan harga diri sebagai penyebab depresi yang utama, kehilangan objek ini dapat nyata atau simbolik, misalnya prestasi belajar menurun, status sosial ekonomi. Perbedaan antara ideal self seseorang dengan persepsinya terhadap keadaan yang senyatanya menjadi sumber depresi. Keadaan ini terkait dengan ketidakmampuan individu untuk mengalami kontinyuitas perasaan secara langsung yang erat kaitanya dengan hilangnya kesadaran diri dengan tubuh sebagai suatu kesatuan diri (May dalam Koeswara, 1988). Terkadang orang tidak menyadari seutuhnya apa yang dialaminya, seperti seseorang memikirkan tentang situasi emosinya melalui keluhan fisik tanpa mengerti atau merasakan kaitan perasaannya yang ditekan dengan keluhan fisik yang dilontarkan. Tanpa adanya kesadaran diri di sini dan saat ini tentang apa yang dialaminya dan konflik yang sedang dihadapinya, ia tidak akan merasa bahagia dan akan terjebak dalam permasalahan yang dirasakan. Sikap individu yang memisahkan dan mengobjekkan tubuh tanpa dirinya hanya sebagai tubuh tanpa subjek, hal ini tidak hanya terlihat dalam hubungan individu dengan dirinya, tetapi juga dalam hubungan individu dengan orang lain.

4). Pendekatan Kognitif

Penderita depresi menunjukkan pandangan negatif terhadap pengalaman, diri dan masa depan mereka. Penderita depresi juga menunjukkan distorsi kognitif, yaitu kesalahan dalam berpikir yang dibuat penderita depresi dalam menarik kesimpulan terhadap apa yang dialaminya (Beck, 1985). Beck berpendapat bahwa penderita depresi mempunyai skema negatif. Skema adalah sebagai suatu bentuk struktur kognitif yang merupakan konseptualisasi pada respon terhadap keadaan lingkungan berdasarkan pengalamannya. Struktur kognitif atau skema mulai terbentuk sejak awal, yaitu sejak individu mengembangkan berbagai konsep dan sikap mengenai dirinya dan dunianya. Konsep individu tersebut tersusun dari pengalaman, dari penilaian orang lain, dan dari identifikasi terhadap figur kunci seperti orangtua, saudara, atau teman. Respon afektif ditentukan oleh bagaimana cara individu memandang pengalamannya, bila konsep individu terhadap suatu situasi tidak menyenangkan, maka individu tersebut akan mengalami respon afektif yang tidak menyenangkan sesuai dengan pemikirannya. Pandangan kognitif menekankan bahwa remaja yang mengalami depresi pada masa anak-anaknya akan membentuk skema kognitif dengan karakteristik rendahnya penilaian terhadap diri sendiri dan tidak memiliki keyakinan akan masa depannya (Beck dalam Santrock, 2003a). Kebiasaan pemikiran negatif dari masa anak-anak akan meningkatkan pengalaman negatif yang dimiliki remaja putri dan akan berujung depresi.

Berdasarkan pendekatan kognitif mindfulness dapat dipandang sebagai kualitas kesadaran diri. Afeksi atau emosi dan kognitif memerankan peran penting pada kemunculan depresi dalam arus kesadaran. Keadaan afektif atau emosi negatif bagi seseorang yang mengalami depresi akan disertai adanya pemikiran yang menjelaskan munculnya keadaan tersebut (Greenberger & Padesky, 2004). Beck (1985) dan Burns (1988) mengungkapkan bahwa respon afektif atau emosi ditentukan bagaimana seseorang memandang pengalamannya sebagai hasil interaksinya dengan lingkungan. Seorang individu mengalami situasi atau keadaan yang tidak menyenangkan, maka akan mengalami respon afektif atau emosi yang tidak menyenangkan sesuai dengan pemikirannya mengenai keadaanya tersebut (kognitif). Berpikir terlalu mendalam (rumination) sebagai pemikiran negatif akan situasi yang dihadapi meningkatkan afeksi atau emosi negatif, begitu pula sebaliknya (Bishop dkk, 2004). Ketika seseorang mengalami tekanan kehidupan begitu kuat sehingga muncul suasana hati yang tidak menyenangkan dan disertai pemikiran negatif mengenai keadaan dirinya akan berujung depresi. Depresi merupakan keadaan seseorang ketika merasakan suasana hati yang tidak menyenangkan akan situasi yang dihadapi yang disertai pemikiran negatif atasnya (Ma & Teasdale, 2004). Pemikiran ataupun emosi yang dirasakan muncul dalam arus kesadaran sebagai akibat interaksinya dengan lingkungan (Damasio, 2000; Thompson & Varela, 2001; Capra, 2003).

Mindfulness dimulai dengan membawa keadaan sadar terjaga pada pengalaman di sini-saat ini, dengan meningkatkan fokus perhatian pada perubahan yang terjadi atas pikiran, perasaan, dan sensasi diamati dari waktu ke waktu. Peningkatan fokus perhatian menghasilkan kesadaran non-elaboratif dan tanpa penilaian akan pikiran, perasaan, dan sensasi yang muncul sehingga mindfulness merupakan pengalaman langsung akan realitas. Keadaan penerimaan dalam mindfulness muncul sebagai pengalaman terbuka akan realitas yang terjadi di sini-saat ini (Roemer & Orsillo dalam Bishop, 2004). Pengalaman terbuka dan penerimaan memungkinkan perspektif yang lebih luas akan pikiran dan perasaannya sehingga resiko depresi dapat dikurangi bersama dengan meningkatnya kesadaran akan pikiran negatif sebagai peristiwa mental yang muncul dalam arus kesadaran (Lau & McMain, 2005; Finucane & Mercer, 2006).

c. Dimensi Sosial-lingkungan (Pendekatan Hubungan Interpersonal)

Memahami depresi yang terjadi pada remaja memerlukan informasi mengenai pengalamannya pada masa remaja dan anak-anak. Ikatan antara ibu dan anak yang tidak memberikan rasa aman, tanpa rasa cinta dan kasih sayang dalam pengasuhan anak, atau kehilangan salah satu orangtua pada masa anak-anak akan menciptakan set kognitif yang negatif (Bowlby dalam Santrock, 2003a). Skema kognitif yang negatif tersebut akan dibawa terus hingga mempengaruhi pengalamannya pada masa kehidupan selanjutnya. Pengalaman-pengalaman baru remaja putri yang berkaitan dengan kehilangan akan memicu munculnya depresi.

Hubungan dengan keluarga atau teman sebaya berpengaruh pada munculnya depresi pada remaja. Orangtua yang mengalami depresi atau orang yang tidak hadir secara emosional, terlibat dalam konflik perkawinan, dan memiliki masalah ekonomi memunculkan depresi pada anak remaja mereka (Downey & Goyne; Galambos & Sears; Lee & Gotlieb; Lempers & Clark-Lempers dalam Santrock, 2003a). Ketiadaan hubungan yang dekat dengan sahabat, sedikitnya teman, dan penolakan dari teman sebaya dapat meningkatkan munculnya depresi pada remaja (Vernberg dalam Santrock, 2003a).

Berdasarkan uraian di atas tampak bahwa masing-masing pendekatan mempunyai tinjauan dan pandangan yang berbeda dalam menerangkan terjadinya depresi. Keadaan mindfulness berperan dalam muncul atau tidaknya depresi. Berpikir terlalu mendalam sebagai pemikiran negatif akan situasi yang dihadapi meningkatkan afeksi atau emosi negatif. Depresi muncul ketika seseorang merasakan suasana hati yang tidak menyenangkan akan situasi yang dihadapi yang disertai pemikiran negatif atasnya. Mindfulness adalah pengalaman di sini-saat ini akan keberadaannya yang merupakan kesadaran non-elaboratif dan tanpa penilaian akan pikiran, perasaan, dan sensasi yang muncul sebagai pengalaman langsung akan realitas. Mindfulness memungkinkan perspektif yang lebih luas akan pikiran dan perasaannya sehingga resiko depresi dapat dikurangi bersama dengan meningkatnya kesadaran akan pikiran negatif sebagai peristiwa mental yang muncul dalam arus kesadaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar