Tampilkan postingan dengan label article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label article. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 April 2009

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Depresi

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Depresi

Depresi dapat dijelaskan oleh berbagai pendekatan, yang dapat digunakan untuk menjelaskan kemunculannya.

a. Dimensi Biologis

Pendekatan biologis menemukan bahwa faktor genetis, sistem endokrin, dan neurotransmitter berperan dalam kemunculan depresi (Halgin & Whitbourne, 1997). Kemunculan depresi dalam prespektif biologi dapat dipahami bahwa kehidupan yang penuh stres mengaktifkan hormon stres, berefek luas pada sistem neurotransmitter khususnya serotonin, norepinephirne, dan circadian rhythms function/CRF. Pengaktifan hormon stres dalam jangka waktu lama akan mempengaruhi gen, menghasilkan perubahan jangka panjang pada struktur dan kimia di otak (Durand & Barlow, 2003).

b. Dimensi Psikologis

1). Pendekatan Psikodinamika

Pendekatan ini menekankan penyebab depresi sebagai rasa kehilangan dari suatu objek atau status (Dacey & Kenny, 1997). Proses hubungan antara orangtua dan anaknya merupakan sumber kehilangan, seperti perceraian orangtua, kurangnya kasih sayang orangtua, kurangnya penghargaan tanpa syarat kepada anak, perpisahan orangtua dengan anak, dan kehilangan orangtua dapat menyebabkan depresi.

2). Pendekatan Behavioral

Pendekatan ini memandang bahwa kurangnya reinforcement positif, seperti ketertarikan dan perhatian orangtua terhadap anaknya, dan dampak perubahan hidup mempengaruhi timbulnya depresi. Faktor yang penting lain dalam memahami depresi salah satunya adalah perasaan tidak berdaya (learned helplessness), muncul ketika dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan, seperti stres atau rasa sakit yang berkepanjangan, dan individu merasa tidak memiliki kendali atasnya (Santrock, 2003b). Pengalaman perasaan tidak berharga seperti ini mengarahkan individu pada perasaan putus asa dan keyakinan bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya. Depresi yang dialami remaja putri muncul dikarenakan meningkatnya perasaan tidak berdaya (learned helplessness) yang disebabkan karena meningkatnya penekanan terhadap diri sendiri, kemandirian, dan individualime serta menurunnya hubungan dengan orang lain, keluarga, dan agama (Seligman dalam Santrock, 2003a). Perasaan tidak berharga terjadi ketika remaja putri dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan atau rasa sakit yang berlangsung lama, sementara remaja putri merasa tidak memiliki kendali untuk mengubahnya, sehingga memupuk perasaan putus asa dan keyakinan bahwa tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Remaja putri yang mengalami depresi akan bersikap apatis karena merasa tidak menerima penghargaan dari orang lain (Santrock, 2003a).

3). Pendekatan Humanistik-Eksistensial

Teori ini memfokuskan atas kehilangan harga diri sebagai penyebab depresi yang utama, kehilangan objek ini dapat nyata atau simbolik, misalnya prestasi belajar menurun, status sosial ekonomi. Perbedaan antara ideal self seseorang dengan persepsinya terhadap keadaan yang senyatanya menjadi sumber depresi. Keadaan ini terkait dengan ketidakmampuan individu untuk mengalami kontinyuitas perasaan secara langsung yang erat kaitanya dengan hilangnya kesadaran diri dengan tubuh sebagai suatu kesatuan diri (May dalam Koeswara, 1988). Terkadang orang tidak menyadari seutuhnya apa yang dialaminya, seperti seseorang memikirkan tentang situasi emosinya melalui keluhan fisik tanpa mengerti atau merasakan kaitan perasaannya yang ditekan dengan keluhan fisik yang dilontarkan. Tanpa adanya kesadaran diri di sini dan saat ini tentang apa yang dialaminya dan konflik yang sedang dihadapinya, ia tidak akan merasa bahagia dan akan terjebak dalam permasalahan yang dirasakan. Sikap individu yang memisahkan dan mengobjekkan tubuh tanpa dirinya hanya sebagai tubuh tanpa subjek, hal ini tidak hanya terlihat dalam hubungan individu dengan dirinya, tetapi juga dalam hubungan individu dengan orang lain.

4). Pendekatan Kognitif

Penderita depresi menunjukkan pandangan negatif terhadap pengalaman, diri dan masa depan mereka. Penderita depresi juga menunjukkan distorsi kognitif, yaitu kesalahan dalam berpikir yang dibuat penderita depresi dalam menarik kesimpulan terhadap apa yang dialaminya (Beck, 1985). Beck berpendapat bahwa penderita depresi mempunyai skema negatif. Skema adalah sebagai suatu bentuk struktur kognitif yang merupakan konseptualisasi pada respon terhadap keadaan lingkungan berdasarkan pengalamannya. Struktur kognitif atau skema mulai terbentuk sejak awal, yaitu sejak individu mengembangkan berbagai konsep dan sikap mengenai dirinya dan dunianya. Konsep individu tersebut tersusun dari pengalaman, dari penilaian orang lain, dan dari identifikasi terhadap figur kunci seperti orangtua, saudara, atau teman. Respon afektif ditentukan oleh bagaimana cara individu memandang pengalamannya, bila konsep individu terhadap suatu situasi tidak menyenangkan, maka individu tersebut akan mengalami respon afektif yang tidak menyenangkan sesuai dengan pemikirannya. Pandangan kognitif menekankan bahwa remaja yang mengalami depresi pada masa anak-anaknya akan membentuk skema kognitif dengan karakteristik rendahnya penilaian terhadap diri sendiri dan tidak memiliki keyakinan akan masa depannya (Beck dalam Santrock, 2003a). Kebiasaan pemikiran negatif dari masa anak-anak akan meningkatkan pengalaman negatif yang dimiliki remaja putri dan akan berujung depresi.

Berdasarkan pendekatan kognitif mindfulness dapat dipandang sebagai kualitas kesadaran diri. Afeksi atau emosi dan kognitif memerankan peran penting pada kemunculan depresi dalam arus kesadaran. Keadaan afektif atau emosi negatif bagi seseorang yang mengalami depresi akan disertai adanya pemikiran yang menjelaskan munculnya keadaan tersebut (Greenberger & Padesky, 2004). Beck (1985) dan Burns (1988) mengungkapkan bahwa respon afektif atau emosi ditentukan bagaimana seseorang memandang pengalamannya sebagai hasil interaksinya dengan lingkungan. Seorang individu mengalami situasi atau keadaan yang tidak menyenangkan, maka akan mengalami respon afektif atau emosi yang tidak menyenangkan sesuai dengan pemikirannya mengenai keadaanya tersebut (kognitif). Berpikir terlalu mendalam (rumination) sebagai pemikiran negatif akan situasi yang dihadapi meningkatkan afeksi atau emosi negatif, begitu pula sebaliknya (Bishop dkk, 2004). Ketika seseorang mengalami tekanan kehidupan begitu kuat sehingga muncul suasana hati yang tidak menyenangkan dan disertai pemikiran negatif mengenai keadaan dirinya akan berujung depresi. Depresi merupakan keadaan seseorang ketika merasakan suasana hati yang tidak menyenangkan akan situasi yang dihadapi yang disertai pemikiran negatif atasnya (Ma & Teasdale, 2004). Pemikiran ataupun emosi yang dirasakan muncul dalam arus kesadaran sebagai akibat interaksinya dengan lingkungan (Damasio, 2000; Thompson & Varela, 2001; Capra, 2003).

Mindfulness dimulai dengan membawa keadaan sadar terjaga pada pengalaman di sini-saat ini, dengan meningkatkan fokus perhatian pada perubahan yang terjadi atas pikiran, perasaan, dan sensasi diamati dari waktu ke waktu. Peningkatan fokus perhatian menghasilkan kesadaran non-elaboratif dan tanpa penilaian akan pikiran, perasaan, dan sensasi yang muncul sehingga mindfulness merupakan pengalaman langsung akan realitas. Keadaan penerimaan dalam mindfulness muncul sebagai pengalaman terbuka akan realitas yang terjadi di sini-saat ini (Roemer & Orsillo dalam Bishop, 2004). Pengalaman terbuka dan penerimaan memungkinkan perspektif yang lebih luas akan pikiran dan perasaannya sehingga resiko depresi dapat dikurangi bersama dengan meningkatnya kesadaran akan pikiran negatif sebagai peristiwa mental yang muncul dalam arus kesadaran (Lau & McMain, 2005; Finucane & Mercer, 2006).

c. Dimensi Sosial-lingkungan (Pendekatan Hubungan Interpersonal)

Memahami depresi yang terjadi pada remaja memerlukan informasi mengenai pengalamannya pada masa remaja dan anak-anak. Ikatan antara ibu dan anak yang tidak memberikan rasa aman, tanpa rasa cinta dan kasih sayang dalam pengasuhan anak, atau kehilangan salah satu orangtua pada masa anak-anak akan menciptakan set kognitif yang negatif (Bowlby dalam Santrock, 2003a). Skema kognitif yang negatif tersebut akan dibawa terus hingga mempengaruhi pengalamannya pada masa kehidupan selanjutnya. Pengalaman-pengalaman baru remaja putri yang berkaitan dengan kehilangan akan memicu munculnya depresi.

Hubungan dengan keluarga atau teman sebaya berpengaruh pada munculnya depresi pada remaja. Orangtua yang mengalami depresi atau orang yang tidak hadir secara emosional, terlibat dalam konflik perkawinan, dan memiliki masalah ekonomi memunculkan depresi pada anak remaja mereka (Downey & Goyne; Galambos & Sears; Lee & Gotlieb; Lempers & Clark-Lempers dalam Santrock, 2003a). Ketiadaan hubungan yang dekat dengan sahabat, sedikitnya teman, dan penolakan dari teman sebaya dapat meningkatkan munculnya depresi pada remaja (Vernberg dalam Santrock, 2003a).

Berdasarkan uraian di atas tampak bahwa masing-masing pendekatan mempunyai tinjauan dan pandangan yang berbeda dalam menerangkan terjadinya depresi. Keadaan mindfulness berperan dalam muncul atau tidaknya depresi. Berpikir terlalu mendalam sebagai pemikiran negatif akan situasi yang dihadapi meningkatkan afeksi atau emosi negatif. Depresi muncul ketika seseorang merasakan suasana hati yang tidak menyenangkan akan situasi yang dihadapi yang disertai pemikiran negatif atasnya. Mindfulness adalah pengalaman di sini-saat ini akan keberadaannya yang merupakan kesadaran non-elaboratif dan tanpa penilaian akan pikiran, perasaan, dan sensasi yang muncul sebagai pengalaman langsung akan realitas. Mindfulness memungkinkan perspektif yang lebih luas akan pikiran dan perasaannya sehingga resiko depresi dapat dikurangi bersama dengan meningkatnya kesadaran akan pikiran negatif sebagai peristiwa mental yang muncul dalam arus kesadaran.

Depresi pada Remaja Putri

Depresi pada Remaja Putri

Depresi merupakan gangguan psikologis yang banyak dialami pada masa remaja (Steinberg, 2002). Depresi akan terlihat sebagai suatu periode perasaan kesedihan atau suasana hati yang tertekan, yang dialami remaja dapat berlangsung singkat atau selama jangka waktu tertentu (Santrock, 2003a). Simtom depresi pada remaja akan terlihat seperti kurang berminat pada kegiatan yang menyenangkan, menjauhi teman, pesimis tanpa harapan, rasa tidak peduli–kebosanan berlebihan, kurang motivasi dan energi, gangguan tidur, cenderung berpakaian gelap, menulis bertema kesedihan, atau mendengarkan musik bertema suasana hati kacau. Depresi pada remaja menjadi patologis atau gangguan muncul ketika durasinya terlalu lama atau intensitasnya besar (Dacey & Kenny, 1997).

Depresi pada remaja dibedakan dalam tiga keadaan, yaitu suasana hati tertekan (depressed mood), sindroma depresif (depressive syndromes), dan depresi klinis (depressive disorder) (Santrock, 2003a; Compas & Gotlieb, 2002; Steinberg, 2002). Suasana hati tertekan merupakan suatu periode kesedihan atau suasana hati tidak bahagia yang dialami remaja dapat berlangsung singkat atau selama jangka waktu relatif lama (Santrock, 2003a). Suasana hati tertekan pada remaja akan muncul sebagai simtom tunggal seperti kesedihan, perasaan tidak bahagia dalam waktu tertentu (Compas & Gotlieb, 2002). Kesedihan atau perasaan tidak bahagia merupakan hal umum terjadi pada remaja sebagai respon terhadap pengalaman sehari-hari, seperti kehilangan hubungan yang berarti atau kegagalan melakukan tugas penting. Sindroma depresif muncul pada remaja sebagai suatu kesatuan tingkah laku dan emosi meliputi kecemasan dan suasana hati tertekan dengan gejala seperti perasaan kesepian, menangis, takut melakukan hal yang buruk, perasaan ingin sempurna, perasaan tidak dicintai, perasaan tidak berharga, gugup, merasa bersalah, sedih dan rasa cemas (Santrock, 2003a). Depresi klinis muncul bila remaja didiagnosis mengalami gangguan depresif mayor atau gangguan distimia.

Suasana hati tertekan, dan sindroma depresif menjadi keadaan yang banyak dialami pada masa remaja. Depresi yang dialami remaja terkait dengan meningkatnya kehidupan penuh stress (tekanan) dan perubahan keadaan kognitif yang cenderung kurang introspektif dan berpikir terlalu mendalam yang disertai pula suasana hati yang tidak menyenangkan akan segala sesuatu (Steinberg, 2002).

Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Depresi meningkat pada masa transisi perkembangan antara remaja awal-tengah sampai remaja akhir (Dacey & Kenny, 1997). Peningkatan depresi pada remaja ini terjadi sebagai akibat dari perubahan yang berlangsung cepat dalam kehidupannya. Perubahan yang terjadi diantaranya adalah meningkatnya peristiwa kehidupan yang penuh stres, seperti perubahan sekolah, teman baru, ataupun tugas sosial lingkungan yang baru. Perubahan secara kognitif pada remaja mencakup kemampuan untuk memahami, mengekspresikan emosi yang merupakan refleksi diri terkadang mengalami hambatan terlebih lagi tentang bagaimana memahami masa depannya nanti (Petersen dalam Dacey & Kenny, 1997).

Meningkatnya simtom-simtom depresi pada remaja itu sendiri dipengaruhi oleh perubahan kondisi hormonal, seperti mulai aktifnya hormon testosteron dan estrogen yang berdampak secara fisik sekaligus psikologis. Perubahan hormonal mempengaruhi kesiapan alat reproduksi dan berdampak pada kematangan seksual, seperti perasaan menyukai lawan jenis pada remaja putri, dan bila mengalami kegagalan dalam menjalin hubungan dapat menjadi faktor penyebab depresi. Berbagai faktor penyebab meningkatnya simtom-simtom depresi sebagaimana diuraikan di atas dapat terjadi dalam waktu yang bersamaan, sehingga meningkatkan resiko depresi, khususnya pada remaja putri (Dacey & Kenny, 1997).

putri memiliki kecenderungan depresi yang lebih tinggi, hal ini terjadi karena beberapa alasan. Gambaran diri remaja putri terutama mengenai tubuh mereka seringkali lebih negatif dibandingkan gambaran diri remaja laki-laki, dan masyarakat sering bersikap berat sebelah dan tidak memihak remaja putri (Nolen-Hoeksema & Seligman dalam Santrock, 2005). Nolen dan Hoeksema (Davidson & Neale, 1996) menyatakan bahwa perbedaan tingkat depresi antara remaja laki-laki dan remaja putri disebabkan perbedaan cara dalam coping terhadap stres. Remaja laki-laki akan terlibat aktivitas (olah raga; misalnya sepak bola, basket) sehingga mereka tidak memperlihatkan suasana hati mereka. Remaja putri terlihat kurang aktif, cenderung merenungkan situasi yang mereka hadapi dan menyalahkan diri sendiri. Santrock (2005) mengungkapkan bahwa remaja putri lebih tinggi tingkat depresinya dibanding remaja laki-laki karena : a) remaja putri cenderung berpikir terlalu mendalam (rumination) mengenai keadaan suasana hatinya yang tertekan; b) gambaran diri remaja putri mengenai tubuhnya lebih negatif dari pada remaja laki-laki; c) remaja putri lebih mengalami diskriminasi dari pada laki-laki; d) perubahan hormonal yang dialami khususnya remaja putri.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa depresi pada remaja putri merupakan keadaan suasana hati yang tidak menyenangkan, disebabkan oleh perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya, seperti perubahan fisik, emosi, kognisi, serta keadaan lingkungan. Depresi muncul pada remaja putri yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang tidak menyenangkan, kognitif, motivasional, dan fisik. Hal ini bila dibiarkan dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan pada diri remaja putri.

Selasa, 21 April 2009

Proses Mindfulness dalam Kesadaran Diri_part 1

a. Proses Terbentuknya Kesadaran Diri

Mindfulness sebagai kualitas kesadaran diri terkait erat dengan dinamika pikiran, tubuh dan otak; yakni hubungan timbal balik Homeostatis – Emosi – Kognitif (Brown & Ryan, 2003; Thompson & Varela, 2001; Beuregard dalam Watt, 2004). Hillman (Strongman, 1996) mengungkapkan bahwa emosi merupakan proses perubahan bentuk kesadaran sebagai respon terhadap realitas yang dihadapinya yang terwujud dengan perubahan keadaan fisik, misal ekspresi wajah. Keadaan tubuh dan emosi seseorang sesungguhnya merupakan bentuk ekspresi dari respon terhadap stimulus yang diterimanya setiap saat. Darwin (2003) mengungkapkan bahwa ekspresi emosi merupakan respon adaptif organisme terhadap lingkungan yang mengkomunikasikan mengenai keadaannya. Damasio (2000) menyatakan bahwa emosi merupakan hubungan rumit perubahan hormonal (kimia tubuh) dan sistem neural yang terkait peran pengaturan keadaan organisme untuk memelihara dan mempertahankan hidupnya

Damasio (2000) menyatakan emosi adalah bagian sistem regulasi biologis yang sangat mendasar untuk beradaptasi. Emosi mempunyai dua fungsi biologis. Pertama berfungsi untuk menghasilkan suatu reaksi ketika berhadapan dengan situasi tertentu; seperti melarikan diri atau melawan ketika menghadapi ancaman, terlebih lagi bagi manusia akan terlihat temperamen takut, marah, bahagia, ataupun bijaksana. Kedua berfungsi sebagai pengaturan keadaan internal tubuh yang diperlukan untuk suatu reaksi; seperti meningkatnya aliran darah pada arteri di kaki sehingga otot menerima ekstra energi dan oksigen, atau pada keadaan marah atau bahagia terlihat dari ritme detak jantung dan pernafasan. Beuregard (Watt, 2004) lebih lanjut mengungkapkan emosi sebagai perangkat beradaptasi merupakan bagian dari sistem homeostatis yang berperan menjaga dalam menciptakan keadaan keseimbangan internal tubuh. Cannon (Damasio, 2000) menyatakan homeostatis merupakan koordinasi otomatis reaksi fisiologis yang dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan internal pada organisme hidup, seperti pengaturan otomatis suhu tubuh, konsentrasi oksigen, atau pH dalam tubuh.

Keadaan homeostatis memerlukan emosi ketika berhadapan dengan lingkungan yang kompleks. Damasio (2000) mengungkapkan emosi penting bagi organisme karena setiap objek atau situasi mendapatkan sentuhan emosi yang bernilai bagi keadaan homeostatis sebagai hadiah-hukuman, kebahagiaan-kesakitan, ataupun baik (bertahan hidup) – buruk (kematian). Sakit merupakan persepsi mengenai rusaknya jaringan disertai meningkatnya emosi dirasakan sebagai rasa sakit. Sakit berhubungan erat dengan emosi negatif, seperti ketakutan dan kesedihan. Keadaan bahagia behubungan dengan keseimbangan keadaan internal, seperti lapar-haus (kurang tercukupinya kadar gula dalam darah ataupun mineral) bagi organisme sebagai dorongan atau motivasi untuk melangsungkan kehidupannya. Homeostatis dan emosi memiliki hubungan timbal balik untuk menjaga keseimbangan hidup organisme, seperti pengaturan metabolisme tubuh, refleks sederhana, motivasi, biologi sakit-bahagia, dan terutama emosi merupakan dasar pemahaman tingkat tinggi (kesadaran-kognitif) (Damasio, 2000). Hubungan timbal balik homeostatis dan emosi terjadi karena organisme didesain untuk memperhatikan adanya ketidakseimbangan yang terjadi dengan reaksi emosi berprioritas/spesifik (Bernhardt, 2001).

Emosi merupakan pikiran biologis bawah sadar yang secara otomatis mendorongs tidak hanya menghasilkan dorongan seksual (reproduksi) tetapi juga rasa cinta, perawatan, dan pengasuhan. organisme untuk berorientasi mempertahankan kehidupannya (Damasio, 2000; Beuregard dalam Watt, 2004; Bernhardt, 2001). Emosi berprioritas/spesifik seperti pengalaman sakit merupakan arahan bagi organisme untuk mempertahankan keberadaannya menghasilkan antisipasi sakit (ketakutan, kecemasan, ataupun kebencian). Keadaan emosi berprioritas/spesifik manusia lebih berisi dan komplek

Emosi berprioritas/spesifik menuntun pembentukan perasaan diri yang merupakan set prioritas bagaimana seseorang mendefinisikan dirinya dan bagaimana mempertahankan keberadaannya (Damasio, 2000; Beuregard dalam Watt, 2004; Bernhardt, 2001). Emosi berprioritas/spesifik merupakan arah penentu yang membawa kesadaran bagi manusia. Damasio (2000) mengungkapkan manusia merasakan keadaan emosinya ketika merasakan perasaan dirinya tercipta di pikirannya yang merupakan kesadaran akan dirinya. Kesadaran diri menyebabkan perasaan diri diketahui, mempengaruhi emosi secara internal dan mengantarkannya bersama arus proses pikiran sebagai pemilik perasaan diri. Kesadaran diri membuat suatu objek diketahui (objek emosi atau objek lain), meningkatkan kemampuan manusia merespon lebih adaptif, dan memungkinkan manusia memiliki kesadaran penuh akan kebutuhannya ketika berhadapan dengan lingkungan yang kompleks. Gambaran tingkat pengaturan kehidupan manusia dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini :

High Reason

Respon komplek, fleksibel, dan terencana; tersusun dalam gambaran sadar dan kemungkinan muncul sebagai perilaku.

Consciousness

Feeling

Sensor yang menangkap sakit, senang, dan emosi menjadi gambaran mental.

Emotion

Respon emosi yang komplek dan stereotipik.

Basic Life Regulation

(Homeostatis)

Respon yang stereotipik, relatif sederhana seperti regulasi metabolisme; reflek; mekanisme biologis yang mendasari sakit dan senang, dorongan, dan motivasi.

Gambar 1. Tingkat pengaturan kehidupan manusia (Damasio, 2000)

Kesadaran diri merupakan perkembangan lebih lanjut dari emosi yang secara otomatis menghasilkan perilaku berorientasi untuk bertahan hidup. Emosi sebagai perangkat untuk beradaptasi merupakan bagian yang membantu menjaga dalam menciptakan keadaan keseimbangan internal tubuh (homeostatis) dan berperan secara tidak sadar (unconscious) menghasilkan perilaku ketika berinteraksi dengan lingkungan (Watt, 2004). Kesadaran diri merupakan perluasan dan lebih efektifnya sistem tidak sadar (homeostatis-emosi) tubuh dengan munculnya pengetahuan sadar (kognitif) akan keberadaan dirinya (Damasio, 2000).

Thompson dan Varela (2001) mengungkapkan bahwa kesadaran diri manusia merupakan wujud (embodiment) dan aktifnya hubungan proses pengalaman tubuh-otak dan interaksinya dengan dunia di sekelilingnya. Hubungan antara tubuh-otak dan dunia adalah dinamika hubungan antara neural tubuh dan kesadaran situasional yang merupakan proses siklus operasi neural yang menjadikan manusia sebagai agen penentu dari setiap aksinya. Thompson dan Varela (2001) menjelaskan tiga macam siklus yang menjadikan manusia sebagai agen kehidupan, yaitu : 1) siklus organisme yang terjadi pada seluruh tubuh; 2) siklus sensori-motor yang menghubungkan antara organisme dengan lingkungan; dan 3) siklus interaksi intersubjektif, termasuk didalamnya rekognisi pemaknaan dari setiap tindakan dan komunikasi bahasa.

1) Regulasi Organisme

Otak merupakan pusat sistem otomatis saraf, sensor dan efektor dari dan menuju tubuh terhubung proses neural ke proses homeostatis dari organ internal. Emosi merupakan refleksi dari hubungan antara sistem otomatis saraf dan sistem limbik melalui hipotalamus, sehingga emosi merupakan bagian tidak terpisahkan dalam pengaturan homeodinamik. Bagian otak tepatnya pada batang otak, nuklei yang mengatur homeostatis terhubung dengan nuklei yang mengatur tidur dan keadaan sadar terjaga. Regulasi organisme karena terhubung dengan sistem emosi dasar pada otak memiliki dimensi afeksi kuat, terlihat ketika berperilaku dan memiliki perasaan akan kehidupannya. Dimensi afeksi dari regulasi organisme disebut kesadaran inti (core consciousness), merupakan perasaan hidup mengenai keberadaannya yang tidak tergantikan untuk setiap keadaan sadar. Kesadaran ini merupakan regulasi dan proses afeksi yang menjadikan organisme merasakan perasaan dirinya. Kesadaran inti lebih lanjut dibahas dalam struktur kesadaran diri.

2) Sensori – Motor menghubungkan antara organisme dan lingkungan

Aktivitas situasional merupakan bentuk dari siklus sensori-motor yang menghubungkan organisme dengan lingkungan. Apa yang organisme rasakan ketika berinteraksi dengan lingkungan melalui tubuh-otak merupakan fungsi ketika beraksi situasional, begitu pula sebaliknya. Keadaan ini didasari oleh siklus sensori-motor terhubung dengan tubuh yang diolah di neokortikal dan subkortikal otak. Siklus ini memungkinkan organisme menjadi agen penentu dari setiap aksinya.

3) Interaksi Intersubjektif

Mengetahui keadaan afeksi dan sensori-motor sebagai intepretasi keadaan psikologis seseorang melalui bahasa tubuh (ekspresi raut muka, postur tubuh, nada suara) penting dalam kognisi sosial. Struktur yang penting bagi kognisi sosial (amygdala, kortek ventromedial frontal, dan somatosensori kanan) berhubungan erat dengan emosi. Bahan dasar penting bagi kognisi sosial dan emosi untuk diketahui adalah perasaan. Perasaan merupakan hal penting dalam merasakan pengalaman afeksinya yang terhubung dengan emosi diri atau menerima keadaan emosi orang lain dengan empatinya. Rekognisi dari makna tindakan orang lain tergantung dari bagaimana memahami tindakannya sendiri dikenal sebagai sistem cermin neural (mirror-neuron system). Sistem cermin neural untuk rekognisi tubuh, merupakan dasar neural untuk perkembangan bahasa.


Jumat, 10 April 2009

Pengertian Mindfulness sebagai Kualitas Kesadaran Diri

Psikologi adalah ilmu mengenai kehidupan mental yang berarti kesadaran akan kehidupan mentalnya (James dalam Solso, 1998). Mindfulness adalah kualitas kesadaran diri (consciousness), yang mencakup keadaan sadar terjaga (awareness) dan perhatian (attention) dan harus dibedakan dari proses mental seperti kognisi (perencanaan-pengawasan), motivasi, dan keadaan emosi (Brown & Ryan, 2003). Mindfulness harus dibedakan dari beberapa teori self-awareness yang mendapat perhatian selama hampir 30 tahun belakang, seperti Duval dan Wicklunds (1972) yaitu teori objektif self-awareness, Buss’s (1980) yaitu teori self-consciousness, dan Carver dan Scheier’s (1981) yaitu teori self-awareness pengetahuan mengenai diri (Bishop dkk, 2004; Brown & Ryan, 2003). Istilah consciousness digunakan untuk pengertian kesadaran diri secara lebih luas dan didukung munculnya Journal of Consciousness Studies di awal tahun 90an. Istilah awareness saat ini digunakan untuk pengertian keadaan sadar terjaga terkait keadaan internal dan eksternal individu .

Konsep kesadaran diri dalam psikologi humanistik oleh May (Koeswara, 1988) menunjuk sebagai kapasitas yang membuat individu mampu menempatkan, mengamati dirinya, maupun membedakan dirinya dari orang lain; serta kapasitas yang memungkinkan individu mampu menempatkan diri dalam kesadaran masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang tanpa kehilangan dirinya. Ketidak mampuan individu untuk mengalami kontinyuitas perasaan secara langsung erat kaitannya dengan hilangnya kesadaran diri atas tubuh sebagai suatu kesatuan diri (May dalam Koeswara, 1988).

Atkinson dkk (1999) mengemukakan dua macam kesadaran, yaitu : kesadaran aktif, menitikberatkan pada proses mental dalam membuat rencana, mengambil inisiatif, dan memonitor diri sehingga akan memunculkan regulasi diri; dan kesadaran pasif, seperti kesadaran sederhana dari pikiran, emosi, penginderaan, dan kesan. Buss (1995) dalam teori self-consciousness mengemukakan pula ada dua jenis kesadaran diri, yaitu : private self-consciousness, merupakan kesadaran akan diri sendiri yang tidak bisa diamati secara langsung oleh orang lain, seperti bagaimana rasanya otot mengencang, perasan marah, cinta, ataupun perasaan spiritual; dan public self-consciousness, kesadaran akan diri yang diamati pula oleh orang lain, seperti penampilan diri, bagaimana orang lain berpikir tentang diri, penghargaan terhadap orang lain, ataupun bagaimana individu berkomunikasi dengan orang lain.

Solso (1998) mengemukakan bahwa kesadaran diri dari proses fisik mempunyai hubungan timbal balik dengan kehidupan mental yang terkait dengan tujuan hidup, emosi, dan proses kognitif yang mengikutinya. Santrock (2003b) mengemukakan kesadaran diri adalah keadaan sadar terjaga atau pengetahuan mengenai peristiwa yang terjadi di luar dan di dalam dirinya, termasuk sadar akan pribadinya dan pemikiran mengenai pengalamannya. Individu yang memiliki kesadaran diri adalah sadar akan persepsinya, perasaannya, angan-angannya, ataupun sadar akan dunia di luar dirinya (Hist; Posner dalam Matlin, 1998). Solso (1998) mengungkapkan kesadaran diri sebagai keadaan sadar terjaga akan lingkungan di sekitarnya dan proses kognitif yang terjadi dalam dirinya, seperti ingatan, pemikiran, emosi, dan reaksi fisiologisnya. Kesadaran diri adalah kesadaran pikiran yang berasal dari aliran persepsi terhadap sensasi, angan-angan, pemikiran, dan emosi yang terjadi secara terus-menerus (James dalam Santrock, 2003b).

Damasio (2000) menyatakan bahwa kesadaran diri didasari oleh keadaan sadar terjaga dan disertai oleh perhatian yang terpusat pada keadaan internal dalam dirinya (mind-body) dan lingkungan di luar sehingga mengetahui keberadaan dirinya di sini-saat ini. Kualitas kesadaran diri merupakan keadaan lebih jelas dan jernihnya pengalaman sadar individu mengenai keadaan di sini dan saat ini (here & now) dengan secara efektif menyadari ingatan masa lalu dan terlebih lagi memungkinkan mengantisipasi masa depan. Kualitas kesadaran diri oleh para praktisi meditasi timur dan para ahli neurofenomenologi menyebutnya sebagai mindfulness. Mindfulness adalah kualitas kesadaran diri diartikan sebagai meningkatnya perhatian dan keadaan sadar terjaga atas realitas pengalaman keberadaannya yang terjadi di sini-saat ini. Neurofenomenologi merupakan metodologi dengan pendekatan orang pertama dalam studi kesadaran diri yang menekankan pentingnya pengalaman orang pertama atas keadaan di sini-saat ini (Varela & Shear, 1999; Thompson & Lutz, 2003; Thompson dkk, 2004).

Kabat dan Zinn (Bishop, 2002; 2004) menjelaskan bahwa mindfulness merupakan proses yang mengantarkan kualitas perhatian kepada pengalaman disini-saat ini tanpa perlu mengelaborasi, tanpa penilaian; dan penerimaan akan pikiran, perasaan, ataupun sensasi yang muncul dari pusat keadaan sadar terjaga saat ini. Seperti pengalaman ketika berjalan di pantai, merasakan sensasi ketika kaki mendesak pasir, ketika melihat orang memakai bikini disadari sebagai proses pengelihatan yaitu mata menangkap objek manusia mengenakan bikini. Semua yang dirasakan, dilihat, didengar, reaksi emosi dan pemikiran yang menyertai; diperhatikan sebagai peristiwa mental yang muncul dalam arus kesadaran. Keadaan mindfulness diartikan bahwa pemikiran dan perasaan merupakan peristiwa mental yang muncul di pikiran tanpa perlu mengidentifikasikannya secara berlebihan, dan bereaksi secara otomatis dengan kebiasaan perilaku yang cenderung terdorong secara emosional. Mindfulness merupakan keadaan observasi diri yang memberi jarak antara persepsi dan respon, sehingga memungkinkan pikiran untuk merespon situasi lebih efektif pada realitas yang sesungguhnya.

Bishop dkk (2004) menjelaskan bahwa mindfulness merupakan proses yang membawa peningkatan perhatian kepada kualitas keadaan sadar terjaga yang non elaboratif atas pengalaman di sini-saat ini, sebagai pengalaman terbuka, penuh perhatian, dan penerimaan atasnya. Keadaan ini membawa perasaan penuh perhatian akan realitas yang terjadi, sebagai perasaan hidup atas peristiwa pengalaman yang terjadi di sini-saat ini. Misalnya pengalaman makan bersama teman di kantin, merasakan makanan yang masuk dimulut dan dikunyah; muncul pemikiran rasa enak-nasi pulen, kombinasi rasa gurih dan asin sebagai proses yang terjadi ketika makan pada saat ini; melihat teman yang sedang makan di sebelah; merasakan perasaan hidup ketika tangan memasukan makanan ke mulut dan keberadaan diri dengan dimensi jarak teman di sebelah, bangku yang diduduki, ruangan yang ditempati, dan waktu ketika memanipulasi objek di sekitar. Semua pengalaman keberadaan di sini-saat ini, dialami sebagaimana adanya yang merupakan peristiwa mental yang muncul dalam arus kesadaran.

Brown dan Ryan (2003, 2004) menjelaskan bahwa mindfulness adalah hasil meningkatnya keadaan sadar terjaga dan perhatian sehingga menghasilkan kesadaran penuh akan pengalaman keberadaannya di sini-saat ini secara lebih terbuka. Keadaan sadar terjaga adalah pengalaman subjektif dari fenomena internal dan eksternal yang merupakan apersepsi dan persepsi murni dari semua realitas peristiwa yang terjadi setiap saat. Perhatian merupakan pemusatan keadaan sadar terjaga untuk memperjelas aspek tertentu dari realitas. Pengalaman atas rasa kehidupan dan keberadaannya dialami sebagaimana adanya, sebagai realitas pengalaman di sini-saat ini.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa mindfulness adalah proses hasil meningkatnya keadaan sadar terjaga dan perhatian yang terpusat pada keadaan internal dalam dirinya (mind-body) dan lingkungan di luar dirinya atas pengalaman keberadaannya di sini-saat ini; tanpa perlu mengelaborasi, tanpa penilaian, sebagai pengalaman terbuka dan penerimaan atasnya.